<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Unidentified Blog</title>
	<atom:link href="http://tertulisdalam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tertulisdalam.wordpress.com</link>
	<description>U can choose the Tagline for this Blog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Nov 2011 11:16:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tertulisdalam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Unidentified Blog</title>
		<link>http://tertulisdalam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tertulisdalam.wordpress.com/osd.xml" title="Unidentified Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tertulisdalam.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Aku Terpaksa Menikahinya&#8230;..</title>
		<link>http://tertulisdalam.wordpress.com/2011/11/02/aku-terpaksa-menikahinya/</link>
		<comments>http://tertulisdalam.wordpress.com/2011/11/02/aku-terpaksa-menikahinya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 11:16:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indra Wardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertulisdalam.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki &#160; Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri. &#160; Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=106&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.</p>
<p>Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Istriku Liliana tersayang,</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”</p>
<p>Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Source : http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>I can&#8217;t be that &#8216;HigH&#8217;, but I try to reach that&#8230;</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertulisdalam.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertulisdalam.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertulisdalam.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertulisdalam.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertulisdalam.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertulisdalam.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertulisdalam.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertulisdalam.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertulisdalam.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertulisdalam.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertulisdalam.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertulisdalam.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertulisdalam.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertulisdalam.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=106&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertulisdalam.wordpress.com/2011/11/02/aku-terpaksa-menikahinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/44b54188e2c9fce07ab552e69d4c09d2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrawardana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Terciptanya Motor Honda</title>
		<link>http://tertulisdalam.wordpress.com/2011/09/14/sejarah-terciptanya-motor-honda/</link>
		<comments>http://tertulisdalam.wordpress.com/2011/09/14/sejarah-terciptanya-motor-honda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 09:39:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indra Wardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertulisdalam.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Kendaraan bermerek Honda, baik mobil maupun motor, di padatnya lalu lintas mudah sekali kita temukan. Merek kendaran ini barangkali memang layak disebut sebagai raja jalanan. Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri kerajaan bisnis Honda &#8212; Soichiro Honda &#8212; selalu diliputi kegagalan saat menjalani kehidupannya sejak kecil hingga berbuah lahirnya imperium bisnis mendunia itu. Dia bahkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=103&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kendaraan bermerek Honda, baik mobil maupun motor, di padatnya lalu lintas mudah sekali kita temukan. Merek kendaran ini barangkali memang layak disebut sebagai raja jalanan.</p>
<p>Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri kerajaan bisnis Honda &#8212; Soichiro Honda &#8212; selalu diliputi kegagalan saat menjalani kehidupannya sejak kecil hingga berbuah lahirnya imperium bisnis mendunia itu. Dia bahkan tidak pernah bisa menyandang gelar insinyur. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.</p>
<p>Saat merintis bisnisnya, Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun, ia terus bermimpi dan bermimpi. Dan, impian itu akhirnya terjelma dengan bekal ketekunan dan kerja keras. &#8221;Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya di sekitar mesin, motor dan sepeda,&#8221; tutur Soichiro, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengidap lever.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kecintaannya kepada mesin, jelas diwarisi dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah. Di kawasan inilah dia lahir. Kala sering bermain di bengkel, ayahnya selalu memberi catut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906 ini dapat berdiam diri berjam-jam. Tak seperti kawan sebayanya kala itu yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain penuh suka cita. Dia memang menunjukan keunikan sejak awal.Seperti misalnya kegiatan nekad yang dipilihnya pada usia 8 tahun, dengan bersepeda sejauh 10 mil. Itu dilakukan hanya karena ingin menyaksikan pesawat terbang.</p>
<p>Bersepada memang menjadi salah satu hobinya kala kanak-kanak.Dan buahnya, ketika 12 tahun, Soichiro Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Sampai saat itu, di benaknya belum muncul impian menjadi usahawan otomotif. Karena dia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya selalu rendah diri.</p>
<p>Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke kota, untuk bekerja di Hart Shokai Company. Bossnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja di situ, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, Saka Kibara mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di Hamamatsu prestasi kerjanya kian membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya tak jarang hingga larut malam, dan terkadang sampai subuh. Yang menarik, walau terus kerja lembur otak jeniusnya tetap kreatif.</p>
<p>Kejeniusannya membuahkan fenomena. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik untuk kepentingan meredam goncangan. Menyadari ini, Soichiro punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luar biasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia.</p>
<p>Pada usia 30 tahun, Honda menandatangani patennya yang pertama. Setelah menciptakan ruji. Lalu Honda pun ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Mulai saat itu dia berpikir, spesialis apa yang dipilih ? Otaknya tertuju kepada pembuatan ring piston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada 1938. Lalu, ditawarkannya karya itu ke sejumlah pabrikan otomotif. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring Piston buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu dan menyesalkan dirinya keluar dari bengkel milik Saka Kibara. Akibat kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal ring pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin.</p>
<p>Siang hari, setelah pulang kuliah, dia langsung ke bengkel mempraktekkan pengetahuan yang baru diperoleh. Tetapi, setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah. &#8221;Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,&#8221; ujar Honda, yang diusia mudanya gandrung balap mobil. Kepada rektornya, ia jelaskan kuliahnya bukan mencari ijazah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan. Tapi dikeluarkan dari perguruan tinggi bukan akhir segalanya. Berkat kerja kerasnya, desain ring pinston-nya diterima pihak Toyota yang langsung memberikan kontrak. Ini membawa Honda berniat mendirikan pabrik. Impiannya untuk mendirikan pabrik mesinpun serasa kian dekat di pelupuk mata.</p>
<p>Tetapi malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana kepada masyarakat. Bukan Honda kalau menghadapi kegagalan lalu menyerah pasrah. Dia lalu nekad mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Namun lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar, bahkan hingga dua kali kejadian itu menimpanya.</p>
<p>Honda tidak pernah patah semangat. Dia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, untuk digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Penderitaan sepertinya belum akan selesai. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik ring pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.</p>
<p>Akhirnya, tahun 1947, setelah perang, Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya akibat krisis moneter itu. Padahal dia ingin menjual mobil itu untuk membeli makanan bagi keluarganya.</p>
<p>Dalam keadaan terdesak, ia lalu kembali bermain-main dengan sepeda pancalnya. Karena memang nafasnya selalu berbau rekayasa mesin, dia pun memasang motor kecil pada sepeda itu. Siapa sangka, sepeda motor&#8211; cikal bakal lahirnya mobil Honda &#8212; itu diminati oleh para tetangga. Jadilah dia memproduksi sepeda bermotor itu. Para tetangga dan kerabatnya berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Lalu Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobilnya, menjadi raja jalanan dunia, termasuk Indonesia.</p>
<p>Semasa hidup Honda selalu menyatakan, jangan dulu melihat keberhasilanya dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. &#8221;ORANG MELIHAT KESUKSESAN SAYA HANYA SATU PERSEN. TAPI, MEREKA TIDAK MELIHAT 99 PERSEN KEGAGALAN SAYA,&#8221; tuturnya. Ia memberikan petuah, &#8221;KETIKA ANDA MENGALAMI KEGAGALAN, MAKA SEGERALAH MULAI KEMBALI BERMIMPI. DAN MIMPIKANLAH MIMPI BARU.&#8221; Jelas kisah Honda ini merupakan contoh, bahwa sukses itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, dan hanya berasal dari keluarga miskin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>PS : Orang tidak akan bisa berdiri ketika dia tidak jatuh</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertulisdalam.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertulisdalam.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertulisdalam.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertulisdalam.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertulisdalam.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertulisdalam.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertulisdalam.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertulisdalam.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertulisdalam.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertulisdalam.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertulisdalam.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertulisdalam.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertulisdalam.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertulisdalam.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=103&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertulisdalam.wordpress.com/2011/09/14/sejarah-terciptanya-motor-honda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/44b54188e2c9fce07ab552e69d4c09d2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrawardana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Albert Einstein</title>
		<link>http://tertulisdalam.wordpress.com/2011/03/17/albert-einstein/</link>
		<comments>http://tertulisdalam.wordpress.com/2011/03/17/albert-einstein/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Mar 2011 07:32:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indra Wardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertulisdalam.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Meski ia mengatakan, &#8220;Aku tidak punya bakat khusus. Aku hanyalah orang yang penasaran.&#8221; namun nama &#8220;Einstein&#8221; sangat identik dengan kata &#8220;Jenius&#8221;. Hampir tidak ada seorangpun yang menolak jika Einstein dikatakan sebagai prototipe manusia jenius. Berikut berbagai pemikiran dan pendapat sang maskot ilmuwan modern. Hakikatku adalah yang aku pikirkan, bukan apa yang aku rasakan Selagi ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=97&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meski ia mengatakan, &#8220;Aku tidak punya bakat khusus. Aku hanyalah orang yang penasaran.&#8221; namun nama &#8220;Einstein&#8221; sangat identik dengan kata &#8220;Jenius&#8221;. Hampir tidak ada seorangpun yang menolak jika Einstein dikatakan sebagai prototipe manusia jenius. Berikut berbagai pemikiran dan pendapat sang maskot ilmuwan modern.</p>
<p>Hakikatku adalah yang aku pikirkan, bukan apa yang aku rasakan</p>
<p>Selagi ada cinta tidak perlu ada lagi pertanyaan<br />
Aku Berpikir terus menerus berbulan bulan dan bertahun tahun, sembilan puluh sembilan kali dan kesimpulannya salah. Untuk yang keseratus aku benar.</p>
<p>Kalau mereka ingin menemuiku, aku ada disini. Kalau mereka ingin bertemu dengan pakaianku, bukalah lemariku dan tunjukkan pada mereka. (Ketika istrinya memintanya berganti untuk menemui Duta Besar Jerman)</p>
<p>Kebanyakan orang mengatakan bahwa kecerdasanlah yang melahirkan seorang ilmuwan besar. Mereka salah, karakterlah yang melahirkannya.</p>
<p>Tanda kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan tapi imajinasi.</p>
<p>Imajinasi lebih berharga daripada ilmu pengetahuanLogika akan membawa Anda dari A ke B. Imajinasi akan membawa Anda kemana-mana.</p>
<p>Tidak ada eksperimen yang bisa membuktikn aku benar, namun sebaliknya sebuah eksperimen saja bisa membuktikan aku salah.</p>
<p>Orang-orang seperti kita, yang percaya pada fisika, mengetahui bahwa perbedaan antaramasa lalu, masa kini, dan masa depan hanyalah sebuah ilusi yang terus menerus ada.</p>
<p>Dunia ini adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami, bukan karena orang-orangnya jahat, tapi karena orang-orangnya tak perduli.</p>
<p>Mencari kebenaran lebih bernilai dibandingkan menguasainya.</p>
<p>Hidup itu seperti naik sepeda. Agar tetap seimbang, kau harus terus bergerak.</p>
<p>Sudah saatnya cita-cita kesuksesan diganti dengan cita-cita pengabdian.</p>
<p>Lebih mudah mengubah plutonium dari pada mengubah sifat jahat manusia.</p>
<p>Tidak ada yang lebih merusak martabat pemerintah dan hukum negeri dibanding meloloskan undang-undang yang tidak bisa ditegakkan.</p>
<p>Belajarlah dari masa lalu, hiduplah untuk masa depan. Yang terpenting adalah tidak berhenti bertanya.</p>
<p>Generasi-generasi yang akan datang akan kehilangan keyakinan bahwa manusia akan berjalan di muka bumi dengan darah dan daging.</p>
<p>Nilai manusia terletak pada apa yang bisa dia terima.</p>
<p>Kalau nilai 9 itu kesuksesan dalam kehidupan, maka nilai 9 sama dengan x ditambah y ditambah z. Bekerja adalah x, y adalah bermain, dan z adalah untuk berdiam diri.</p>
<p>Orang berjiwa besar akan selalu menghadapi perlawanan hebat dari orang2<br />
&#8220;PICIK&#8221;.</p>
<p>Barangsiapa yang tidak pernah melakukan kesalahan,<br />
maka dia tidak pernah mencoba sesuatu yang baru</p>
<p>Hal yang paling sukar dipahami di dunia ini<br />
adalah pajak penghasilan.</p>
<p>Kecerdasan tidak banyak berperan dalam proses penemuan.<br />
Ada suatu lompatan dalam kesadaran,<br />
sebutlah itu intuisi atau apapun namanya,<br />
solusinya muncul begitu saja dan<br />
kita tidak tahu bagaimana atau mengapa.</p>
<p>Kebahagiaan dalam melihat dan<br />
memahami merupakan anugerah<br />
terindah alam.</p>
<p>Hanya ada dua cara menjalani kehidupan kita.<br />
Pertama adalah seolah tidak ada keajaiban.<br />
Kedua adalah seolah segala sesuatu adalah keajaiban.</p>
<p>Usaha pencarian kebenaran dan keindahan<br />
merupakan kegiatan yang memberi peluang bagi kita<br />
untuk menjadi kanak-kanak sepanjang hayat.</p>
<p>Hanya seseorang yang mengabdikan dirinya untuk<br />
suatu alasan dengan seluruh kekuatan dan jiwanya yang<br />
bisa menjadi seorang guru sejati. Dengan<br />
alasan ini penguasaan menuntut semuanya dari seseorang.</p>
<p>If you can&#8217;t explain it simply, you don&#8217;t understand it well enough.</p>
<p>In the middle of difficulty lies opportunity.<br />
Di tengah kesulitan ada kesempatan.</p>
<p>True art is characterized by an irresistible urge in the creative artist.</p>
<p>We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them.<br />
Kita tidak bisa menyelesaian suatu masalah dengan jalan berpikir yang sama ketika kita menemukan masalah tersebut.</p>
<p>It has become appallingly obvious that our technology has exceeded our humanity.</p>
<p>The secret to creativity is knowing how to hide your sources.<br />
Rahasia kreatifitas adalah mengetahui bagaimana menyembunyikan sumber kreatifitas tersebut.</p>
<p>Intuisi lebih penting daripada penjelasan. Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.</p>
<p>Tuhan tidak bermain dadu.</p>
<p>E = MC2 &#8211;&gt; Albert Einstein</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertulisdalam.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertulisdalam.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertulisdalam.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertulisdalam.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertulisdalam.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertulisdalam.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertulisdalam.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertulisdalam.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertulisdalam.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertulisdalam.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertulisdalam.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertulisdalam.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertulisdalam.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertulisdalam.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=97&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertulisdalam.wordpress.com/2011/03/17/albert-einstein/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/44b54188e2c9fce07ab552e69d4c09d2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrawardana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UK [June 26 - July 8] 2K10</title>
		<link>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/07/08/uk-june-26-july-8-2k10/</link>
		<comments>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/07/08/uk-june-26-july-8-2k10/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 23:27:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indra Wardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertulisdalam.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Dear Word, Today I write this in very late at night and very far away places from my Fam. Summer 2K10, I&#8217; m having holliday to visit my sister here in UK. So many experience I can get here, so many things I learned from here and sometimes it makes me more stronger to facing [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=90&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear <em>Word,</em></p>
<p>Today I write this in very late at night and very far away places from my Fam. Summer 2K10, I&#8217; m having holliday to visit my sister here in UK. So many experience I can get here, so many things I learned from here and sometimes it makes me more stronger to facing life&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. true life.</p>
<p>For some things I do really likes UK, and other things not. I try to push my self to explore this country with no limit. It such a great fun, despite I still can&#8217;t denied that I&#8217;m thingking &amp; miss my family a lot.</p>
<p><em>Word, </em>let me share with you my few experience here. LIFE here is very independent, means you should do all the things by your self  and if  you&#8217;re not then you were nothing. SOCIALIZE, again this kind of things isn&#8217;t really needed much, for some area yes you will be in touch oftenly with neighbourhoud but mostly you just live independently. DISCIPLINE, most of the people here have very high discipline, you don&#8217;t need red light to make car stop in the street, you dont need to ask people to do this or that, because all the things have their own rules and they obey it, if you&#8217;re not then you get fine, penalties or charges with quith high as well. I&#8217;m not saying this country are free from criminal because when I read newspeaper it&#8217;s all happen every day. But from me as a tourist  I&#8217;ll say it&#8217;s quite good to be in UK. One more thing  interesting  is the INFRASTRUCTURE, economic, cultur, public service &amp; facilities, government birocration, security, health insurance were no doubt on it, it&#8217;s all guarantee that you&#8217;ll be enjoy and save to live here. Even the old man can bring their self to another place by using train or bus&#8230;. amazing. If  I compare to my own country&#8230;. sometimes it suck. To achieve all that kind of stuff there are some things we need to face it, LIFE COST. Yes UK is the second expensive country after switzerland. House &amp; car is not cheap price in here and also If  u want to use public transportation the price is expensive, if you want to buy petroleum or gas here is expensive too  because the government want to reduce polution by ask the citizen to use bicycle or public transportation.</p>
<p><em>Word, </em>I can really see here what the Freedom is everyone can wear what they want, can do what they do and can speak their mind as long as it&#8217;s not against the law and insult other people. I know UK is one of the strong and powerfull country like America, that&#8217;s the main reason why the citizen &amp; the country are so modern.</p>
<p>It&#8217;s such a quick time cause today it&#8217;s gonna be my last day here in UK. Tomorow evening I will gone to Netherlands. One thing I still can&#8217;t get lose of my mind if my Family <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  , I always pray they&#8217;ll gonna be ok in Indonesia.</p>
<p>that&#8217;s all from me <em>Word, </em>once I got another experience in Netherland I will share with u. Juz waiit</p>
<p><strong><em>NOTE : we are small in this world, and we&#8217;re nothing</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertulisdalam.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertulisdalam.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertulisdalam.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertulisdalam.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertulisdalam.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertulisdalam.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertulisdalam.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertulisdalam.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertulisdalam.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertulisdalam.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertulisdalam.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertulisdalam.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertulisdalam.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertulisdalam.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=90&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/07/08/uk-june-26-july-8-2k10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/44b54188e2c9fce07ab552e69d4c09d2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrawardana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Arti dari RSS</title>
		<link>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/05/25/arti-dari-rss/</link>
		<comments>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/05/25/arti-dari-rss/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 04:16:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indra Wardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertulisdalam.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Semua orang di industri blogging pasti pernah mendengar kata RSS, tapi apakah mereka tau fungsi dan arti dari RSS tersebut? Saya yakin banyak yang tidak tahu arti sebenarnya dari RSS tersebut. Mereka hanya melihat alamat yang simpel yang digunakan untuk membaca blog didalam feed reader. Didalam artikel ini saya akan menjelaskan kepada anda arti sebenarnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=87&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua orang di industri blogging pasti pernah mendengar kata RSS, tapi apakah mereka tau fungsi dan arti dari RSS tersebut? Saya yakin banyak yang tidak tahu arti sebenarnya dari RSS tersebut. Mereka hanya melihat alamat yang simpel yang digunakan untuk membaca blog didalam feed reader. Didalam artikel ini saya akan menjelaskan kepada anda arti sebenarnya dari RSS tersebut dan keuntungan menggunakannya.</p>
<p>Arti dari RSS<br />
RSS (singkatan dari Really Simple Syndication) adalah keluarga dari format web feed yang digunakan untuk menerbitkan update isi blog, berita utama, audio, dan video – dalam format yang terstandarisasi. Sebuah dokumen RSS (dimana disebut feed, web feed atau channel) termasuk teks penuh ataupun inti teks artikel tersebut, ditambah meta data yang ada seperti tanggal penerbitan dan penulis.</p>
<p>Penggunaan RSS dalam Blog<br />
Menjalankan blog dan memiliki alamat RSS sangatlah berguna. Mempunyai RSS Feed membuat pembaca anda mendapatkan akses ke konten blog anda tanpa harus mengunjungi blog anda. Mereka berlangganan RSS feed anda melalui sebuah alamat dan membuka feed blog anda dengan feed reader yang mereka suka. Ini membuatnya mudah untuk pembaca untuk menentukan dimana mereka akan mengunjungi dan mengkomentari artikel anda. Yang saya maksudkan adalah pembaca bisa menentukan membuka blog anda atau melihat artikel lain dari blog lain. Saya tahu bahwa saya tidak ingin mengunjungi blog yang berbeda untuk mencari konten apa yang mereka simpan untuk saya dan mereka memiliki artikel yang tidak membuat saya tertarik sama sekali. Mengikuti blog favorit anda melalui sebuah Feed Reader sangatlah mudah dan menyelamatkan waktu anda.</p>
<p>Jumlah Feed Reader yang ada<br />
Ada banyak feed reader yang tersedia untuk mengakses alamat feed yang ada tetapi feed reader yang paling populer adalah berikut ini:</p>
<p>Google Reader<br />
Feed Reader 3<br />
Bloglines<br />
Feed Demon<br />
Netvibes<br />
RSSOwl<br />
Semua reader diatas bisa menangani feed dengan mudah dan mereka sangatlah mudah untuk di install.</p>
<p>Membuat Feed anda terlihat<br />
Sekali anda sudah mendaftarkan alamat feed untuk blog anda pastikan link berlangganan RSS anda terlihat pertama kali untuk pengunjung. Saya merekomendasikan memasang di bagian atas layout blog anda dan diakhir setiap posting. Memiliki feed yang terlihat jelas akan membuat pengunjung kita menyadarinya dan berlangganan. Opsi lainnya adalah menampilkan jumlah subscriber feed anda, hal ini menunjukkan jumlah pengunjung yang berlangganan rss anda.</p>
<p>Berlangganan dengan Email<br />
Keuntungan lain untuk pembaca anda salah satunya adalah mengirimkan feed anda langsung ke email mereka. Itulah kenapa memiliki opsi berlangganan melalui email pada halaman depan anda sangatlah berguna. Anda akan terkejut mengetahui berapa banyak sebenarnya orang yang berlangganan melalui email. Jika anda belum memiliki subscription melalui email sekarang. Pergilah ke halaman depan Feedburner dan klik Publicize lalu pilih Email Subscription. Ikuti instruksi di halaman tersebut dan aktifkan servis email subscription anda sekarang. Gunakan halaman Sign Up yang disediakan dan pasang ke blog anda.</p>
<p>Sekarang . . .<br />
Anda telah mengetahui bagaimana cara memaksimalkan penggunaan RSS feed kedalam blog anda? Pertanyaan saya adalah, sudahkah anda melakukannya pada blog anda?</p>
<p>hmmm&#8230;. di Blog saya aja belom hahaha</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertulisdalam.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertulisdalam.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertulisdalam.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertulisdalam.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertulisdalam.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertulisdalam.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertulisdalam.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertulisdalam.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertulisdalam.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertulisdalam.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertulisdalam.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertulisdalam.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertulisdalam.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertulisdalam.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=87&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/05/25/arti-dari-rss/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/44b54188e2c9fce07ab552e69d4c09d2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrawardana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TEMPAT YANG TIDAK TERGANTIKAN</title>
		<link>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/03/25/tempat-yang-tidak-tergantikan/</link>
		<comments>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/03/25/tempat-yang-tidak-tergantikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Mar 2010 09:44:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indra Wardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertulisdalam.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=85&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Empat tahun yang lalu,<br />
kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya,<br />
bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia<br />
pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu<br />
mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang<br />
kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa<br />
memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah<br />
dan ibu untuk anak saya.</p>
<p>Pada suatu hari, ada<br />
urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya<br />
masih tertidur. Ohhh&#8230; aku harus menyediakan makan untuknya.</p>
<p>Karena masih ada sisa<br />
nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya<br />
yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat<br />
kerja.</p>
<p>Peran ganda yang<br />
kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang<br />
kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku<br />
memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan<br />
makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud<br />
untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu<br />
yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan&#8230;.. di<br />
sanalah sumber &#8216;masalah&#8217;nya &#8230; sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang<br />
berantakan di seprai dan selimut!</p>
<p>Oh&#8230;Tuhan! Aku begitu<br />
marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang<br />
sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya<br />
menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan<br />
singkat:</p>
<p>&#8220;Dad, tadi aku merasa<br />
lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin<br />
memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau<br />
menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan<br />
mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah<br />
dan yang satu lagi untuk saya .. Karena aku takut mie&#8217;nya akan menjadi dingin,<br />
jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang.<br />
Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainan<br />
saya &#8230; Saya minta maaf Dad &#8230; &#8220;</p>
<p>Seketika, air mata<br />
mulai mengalir di pipiku &#8230; tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya<br />
menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower<br />
di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. Setelah beberapa lama, aku<br />
hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas<br />
luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku<br />
membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.</p>
<p>Ketika semuanya sudah<br />
selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku<br />
masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang<br />
melihat foto mommy yang dikasihinya.</p>
<p>Satu tahun berlalu<br />
sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian<br />
dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu,<br />
serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh<br />
tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi<br />
tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa<br />
dengan bahagia.</p>
<p>Namun&#8230; belum lama,<br />
aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal&#8230;.</p>
<p>Guru Taman<br />
Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari<br />
sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa<br />
menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami,<br />
memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat<br />
tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang<br />
dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, &#8220;Aku<br />
minta maaf, Dad&#8221;.</p>
<p>Selang beberapa lama<br />
aku selidiki, ternyata ia absen dari acara &#8220;pertunjukan bakat&#8221; yang diadakan<br />
oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan<br />
ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu&#8230;..</p>
<p>Beberapa hari setelah<br />
penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa<br />
disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku<br />
lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin,<br />
jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia<br />
membuat saya bangga juga!</p>
<p>Waktu berlalu dengan<br />
begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin, dan hari Natal<br />
telah tiba. Semangat Natal ada dimana-mana juga di hati setiap orang yg lalu<br />
lalang&#8230; Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh pelosok jalan &#8230;. tapi astaga,<br />
anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di<br />
hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat<br />
sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati<br />
mereka pun jadi kurang bagus.</p>
<p>Mereka menelpon saya dengan marah-marah,<br />
untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat.<br />
Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi<br />
saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa<br />
bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti<br />
sebelumnya, dia meminta maaf : &#8220;Maaf, Dad&#8221;. Tidak ada tambahan satu kata pun<br />
untuk menjelaskan alasannya melakukan itu.</p>
<p>Setelah itu saya pergi<br />
ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang.<br />
Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan<br />
kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada<br />
dikepalanya?</p>
<p>Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : &#8220;Surat-surat<br />
itu untuk mommy&#8230;..&#8221;.</p>
<p>Tiba-tiba mataku<br />
berkaca-kaca. &#8230;. tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya<br />
kepadanya: &#8220;Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg<br />
sama?&#8221;</p>
<p>Jawaban anakku itu :<br />
&#8220;Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku<br />
mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat<br />
memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos,<br />
aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus&#8221;.</p>
<p>Setelah mendengar<br />
penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang<br />
harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan &#8230;.</p>
<p>Aku bilang pada anakku,<br />
&#8220;Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak<br />
menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat<br />
akan sampai kepada mommy. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang,<br />
dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan<br />
membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke<br />
luar, tapi&#8230;. saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum<br />
mereka berubah menjadi abu.</p>
<p>Dan salah satu dari isi<br />
surat-suratnya membuat hati saya hancur&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8216;Mommy<br />
sayang&#8217;,</p>
<p>Saya sangat<br />
merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara &#8216;Pertunjukan Bakat&#8217; di sekolah, dan<br />
mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi kamu tidak ada,<br />
jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal<br />
ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu<br />
lagi.</p>
<p>Saat itu untuk<br />
menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di<br />
salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku ayah<br />
marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan<br />
alasan yang sebenarnya.</p>
<p>Mommy, setiap hari saya<br />
melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan<br />
sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Saya pikir kita berdua amat sangat<br />
merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi mom, aku mulai<br />
melupakan wajahmu. Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat<br />
melihat wajahmu dan ingat anda? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto<br />
orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu.<br />
Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?</p>
<p>Setelah membaca surat<br />
itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan<br />
kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya<br />
&#8230;.</p>
<p> <br />
Hargailah keberadaan istri<br />
/ suami mu, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala<br />
kekurangan dan kelebihannya, karena saat engkau telah kehilangan dia, tidak ada<br />
emas permata, intan berlian, atau apa pun yg bisa menggantikan<br />
posisinya.</p>
<p><strong><em>Syukurilah &amp; sayangilah ibu/istri kau  saat ini, seolah-olah kau akan kehilangannya esok<br />
</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertulisdalam.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertulisdalam.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertulisdalam.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertulisdalam.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertulisdalam.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertulisdalam.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertulisdalam.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertulisdalam.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertulisdalam.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertulisdalam.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertulisdalam.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertulisdalam.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertulisdalam.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertulisdalam.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=85&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/03/25/tempat-yang-tidak-tergantikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/44b54188e2c9fce07ab552e69d4c09d2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrawardana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GORESAN MOBIL</title>
		<link>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/03/25/goresan-mobil/</link>
		<comments>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/03/25/goresan-mobil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Mar 2010 09:41:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indra Wardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertulisdalam.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Tersebutlah seorang pengusaha muda yang baru saja membeli Jaguar. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga dan prestise. Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=83&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tersebutlah seorang pengusaha muda yang baru saja membeli Jaguar.</p>
<p>Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga dan prestise.</p>
<p>Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu.</p>
<p>Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu.</p>
<p>Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak yang tampak melintas sebelumnya.</p>
<p>&#8220;Buk&#8230;.!&#8221; Aah&#8230;, ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu.</p>
<p>Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.</p>
<p>&#8220;Cittt&#8230;.&#8221; ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan.</p>
<p>Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele.</p>
<p>Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati.</p>
<p>Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa.</p>
<p>Di tariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.</p>
<p>&#8220;Apa yang telah kau lakukan!? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!&#8221; Lihat goresan itu&#8221;, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.</p>
<p>&#8220;Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk memperbaikinya&#8221;. Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu.</p>
<p>Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf.</p>
<p>&#8220;Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.</p>
<p>&#8220;Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun.</p>
<p>&#8220;Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti&#8230;.&#8221;</p>
<p>Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.</p>
<p>&#8220;Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku.</p>
<p>Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..&#8221; Kini, ia mulai terisak.</p>
<p>Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu.</p>
<p>&#8220;Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya.&#8221;</p>
<p>Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam.</p>
<p>Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang sedang mengerang kesakitan.</p>
<p>Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah.</p>
<p>Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya.</p>
<p>Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya.</p>
<p>Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.</p>
<p>&#8220;Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak.&#8221;</p>
<p>Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.</p>
<p>Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Ditelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores itu oleh lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja dilewatinya.</p>
<p>Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya.</p>
<p>Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu.</p>
<p>Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini.</p>
<p>Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: &#8220;Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.&#8221;</p>
<p>Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan.</p>
<p>Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan.</p>
<p>Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar?</p>
<p>Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita.</p>
<p>Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya.</p>
<p>Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.</p>
<p>Teman, kadang memang, ada yang akan &#8220;melemparkan batu&#8221; buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak.</p>
<p>Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.</p>
<p><strong><em>Lihatlah disekeliling kita</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertulisdalam.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertulisdalam.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertulisdalam.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertulisdalam.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertulisdalam.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertulisdalam.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertulisdalam.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertulisdalam.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertulisdalam.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertulisdalam.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertulisdalam.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertulisdalam.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertulisdalam.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertulisdalam.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=83&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/03/25/goresan-mobil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/44b54188e2c9fce07ab552e69d4c09d2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrawardana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>happy birthday 2me</title>
		<link>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/01/29/happy-birthday-2me/</link>
		<comments>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/01/29/happy-birthday-2me/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 04:47:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indra Wardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertulisdalam.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Dear Word, Now we meet again in this beautiful and fresh Day, the weather looks so bright and it&#8217;s not really hot too. This kind of perfect Weather.  Thank you God until now I still can breat fresh air and feeling happy with my Family. Today is January 29, 2010, exactly 29 years ago I was [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=79&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear <em>Word,</em></p>
<p>Now we meet again in this beautiful and fresh Day, the weather looks so bright and it&#8217;s not really hot too. This kind of perfect Weather.  Thank you God until now I still can breat fresh air and feeling happy with my Family. Today is January 29, 2010, exactly 29 years ago I was born.</p>
<p>I have passed  many sad &amp; happy situation, obstacle, venture and many other atmosfer that make me stronger like now. Once again I thank u God.  If  I try to re-memorize all the things in my life, I&#8217;m sure I have reached the Goals and the Dream of my life. Even it&#8217;s not all come true, but deep inside me I&#8217;m convinced that one day I&#8217;ll hit the target. It&#8217;s only a matter of time&#8230; ; )</p>
<p>My Family is one the extraordinary support in my life. They really giving me some extra energy to do all the things and boost me to reach the Goals.</p>
<p>My Parents, MaMah I never stop pray for you, I believe you&#8217;re in heaven with  angels surrounding,  God please take care my mom there. I always love you Mah. PaPah, I always pray for your health so that you can always happy to walk on this life.</p>
<p>Next two Month, in March 2010.  InsyaAllah  I will have the 2nd child, I pray to u God for my wife hopefully the process will be easily and the baby will be &#8220;delievered&#8221; in health &amp; perfect condition.</p>
<p>ya Allah tiada kata yang bisa ku ucapkan selain rasa syukur dan terima kasih yang tiada hentinya. Atas nikmat dan karunia-MU aku bisa sampe seperti sekarang ini, semoga Engkau tidak pernah bosan untuk mendengar doa&amp;permintaan hamba kecilmu ini untuk terus bisa berjuang di dalam kehidupan yang insyaAllah bahagia dunia-akhirat. ya Allah tuntunlah jalan kehidupanku ini&#8230;&#8230;</p>
<p>Thank you <em>Word </em>for letting my hand to wrote&#8221; over&#8221; u</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertulisdalam.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertulisdalam.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertulisdalam.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertulisdalam.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertulisdalam.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertulisdalam.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertulisdalam.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertulisdalam.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertulisdalam.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertulisdalam.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertulisdalam.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertulisdalam.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertulisdalam.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertulisdalam.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=79&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/01/29/happy-birthday-2me/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/44b54188e2c9fce07ab552e69d4c09d2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrawardana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pernahkah Kita Merenung ?</title>
		<link>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/01/26/pernahkah-kita-merenung/</link>
		<comments>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/01/26/pernahkah-kita-merenung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 05:34:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indra Wardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Allah S.W.T]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertulisdalam.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat&#8230; Tatkala kesibukan sungguh sangat menyita waktu kita Waktu sehari 24 jam rasanya sangat tidak cukup Seabreg rencana kegiatan sungguh sangat melelahkan Ini dan itu datang silih berganti tak pernah henti Ini belum selesai datang lagi yang lain&#8230; Belum sisa masalah yang kemarin &#8211; kemarin&#8230; Rasanya capeekkkkk&#8230;sekali&#8230;. Ingin istirahat dan berteduh di bawah pohon belai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=77&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sahabat&#8230;</p>
<p>Tatkala kesibukan sungguh sangat menyita waktu kita</p>
<p>Waktu sehari 24 jam rasanya sangat tidak cukup</p>
<p>Seabreg rencana kegiatan sungguh sangat melelahkan</p>
<p>Ini dan itu datang silih berganti tak pernah henti</p>
<p>Ini belum selesai datang lagi yang lain&#8230;</p>
<p>Belum sisa masalah yang kemarin &#8211; kemarin&#8230;</p>
<p>Rasanya capeekkkkk&#8230;sekali&#8230;.</p>
<p>Ingin istirahat dan berteduh di bawah pohon belai kasih yang terdalam &#8230;sehingga merasakan kedamaian&#8230;kebahagiaan&#8230; &#8230;dan melupakan semua kesibukan yang menyita perhatian</p>
<p>Untuk itu&#8230;</p>
<p>Kiranya kita perlu istirahat sejenak dan merenung&#8230;</p>
<p>&#8230;mau sampai kapan semua itu akan berlangsung ?</p>
<p>&#8230;apakah kita ini sapi perah kesibukan ?</p>
<p>&#8230;atau setidaknya objek yang harus dieksploitasi oleh diri kita sendiri ? Lalu kita tidak pernah merasakan nikmat dari hasil kerj a keras&#8230; &#8230;yang kita lakukan&#8230; Padaha dalam setiap bait do&#8217;a&#8230; Kita berharap kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak Jangan sampai&#8230; Kita sibuk dan capek&#8230; Sementara kebahagiaan tidak pernah kita dapatkan&#8230; Di dunia kita tersita waktu, tenaga, fikiran&#8230; &#8230;oleh kegiatan yang sangaaaaaat melelahkan&#8230;. &#8230;dan di akhirat kita mendapat penderitaan dan siksaan yang panjang</p>
<p>Pernahkah kita merenung&#8230;</p>
<p>Saat kita meregang nyawa&#8230;berhadapan dengan sang Ajal&#8230; Malaikat &#8211; malaikat datang menjemput&#8230; Tinggalah sebuah raga&#8230;yang ditangisi orang&#8230; &#8230;(itupun kalau ada yang menangisi)&#8230;</p>
<p>Dan badan kita dimandiin&#8230;</p>
<p>Lalu didandani dengan pakaian putih bersih made in Kafan</p>
<p>Parfum kita adalah kapur barus&#8230;</p>
<p>Lalu kita gak perlu capek &#8211; capek pergi berjalan kaki</p>
<p>Karena kita akan digotong oleh beberapa orang&#8230;</p>
<p>&#8230;menuju taman indah bernama Kuburan&#8230;</p>
<p>&#8230;yang kadang menurut pendapat sebagian orang sungguh sangat menyeramkan&#8230; Setelah itu kita tidak disuruh apa &#8211; apa&#8230; Jasad kita digeletakan di lobang tanah yang aman</p>
<p>Kalau takut kedinginan&#8230;.</p>
<p>Tenang ajach&#8230;</p>
<p>Karena badan kita akan diselimuti oleh urugan tanah yang sangat tebal Secara perlahan tanah turun sedikit demi sedikit&#8230; Lalu diinjak &#8211; injak orang biar padat&#8230; Setiap injakan itu seolah memberi arti&#8230; &#8230;&#8221;sana kau pergi dan pertanggungjawabkan sendiri&#8221;&#8230; Sungguh sangat&#8230;sangaaat&#8230;.sakiiiit&#8230;..</p>
<p>Pada akhirnya tidak ada seorangpun yang sudi menemani&#8230;</p>
<p>Kita disuruh pergi sendiri menghadap sang hakim di Mahkamah Rabbi</p>
<p>Dan teman &#8211; teman yang mengantarkan kita&#8230;</p>
<p>&#8230;(itupun kalau ada temen yang mengantarkan kita)&#8230;</p>
<p>&#8230;karena bagaimana kita berharap diantar oleh teman &#8211; teman kita &#8230;wong saat teman kita meninggalpun, kita tidak pernah mengantarnya</p>
<p>Sama dengan pertanyaan &#8230;</p>
<p>Bagaimana kita berharap akan disholatkan orang,</p>
<p>&#8230;wong kita sendiri jarang ikut men-sholatkan orang</p>
<p>Bagaimana mau men-sholatkan orang&#8230;</p>
<p>&#8230;wong kita sendiri tidak tahu bagaimana cara dan bacaan sholatnya ????</p>
<p>Sahabat&#8230;</p>
<p>Sebagian yang menghadiri pemakaman mungkin menangis&#8230; &#8230;(karena biasanya ada sebagian yang tidak memiliki perasaan apa-apa)&#8230; Itu hanya sesaat&#8230; &#8230;karena beberapa menit kemudian mereka semua akan meninggalkan kita, &#8230;kita benar &#8211; benar hanya sendirian&#8230; Kalau kita masih hidup, kitapun akan buru &#8211; buru meninggalkan pemakaman&#8230; Nah sekarang&#8230; &#8230;kita yang dipendam&#8230;gak bisa pergi dan lari &#8230;ada rasa takut atau tidak, &#8230;tidak akan ada yang setia menemani Kita menangis atau menjerit &#8211; jeritpun&#8230;. &#8230;tidak ada yang bisa mendengar dan menolong&#8230; &#8230;mungkin kita mengemis &#8211; ngemis minta tolong please&#8230;please&#8230;please&#8230; Tetap saja semua akan pergi meninggalkan kita</p>
<p>Akhirnya kita pasrah lelah tak bisa berbuat apa &#8211; apa&#8230;</p>
<p>Lalu kita akan ditanyai berbagai pertanyaan oleh para malaikat&#8230; Mungkin kita sedang gugup&#8230;,kalut&#8230;,dan takut&#8230; &#8230;dan mungkin ada beberapa siksaan yang pantas kita dapatkan &#8230;karena ada amal keburukan yang pernah kita lakukan&#8230; Sementara seluruh handai taulan, keluarga, dan kerabat kita&#8230; &#8230;semua sedang terlelap dalam tidur malam&#8230;. Sekali lagi, kita benar &#8211; benar harus bertanggung jawab sendiri</p>
<p>Mungkin esoknya masih ada yang membicaran kita,</p>
<p>&#8230;1&#8230;,2&#8230;,3 atau 4 hari saja&#8230;</p>
<p>Setelah itu semua kembali dengan kesibukannya</p>
<p>&#8230;dan kita pun akan benar &#8211; benar dilupakan&#8230;</p>
<p>Dan kembali&#8230;,kita benar &#8211; benar mempertanggungjawabkan sendiri &#8230;hari demi hari yang harus kita lalui di alam sana</p>
<p>Kecuali ada 3 perkara yang akan setia membantu kita, yaitu&#8230; Amal sholih / sedekah / harta yang dibelanjakan di jalan Allah&#8230; Ilmu yang bermanfaat yang pernah kita bagikan&#8230; Dan anak sholeh yang selalu mendo&#8217;akan kita</p>
<p>Pertanyaannya adalah&#8230;</p>
<p>Apakah kita sudah menyiapkan ketiga hal  tersebut&#8230;?</p>
<p>Author :  Dede Farhan Aulawi</p>
<p><strong>&#8220;Bila anda hanya mengejar dunia saja, maka Akhirat  akan hilang. Tp bila Akhirat yang dikejar maka dunia pun akan ngikut&#8221;</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertulisdalam.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertulisdalam.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertulisdalam.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertulisdalam.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertulisdalam.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertulisdalam.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertulisdalam.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertulisdalam.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertulisdalam.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertulisdalam.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertulisdalam.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertulisdalam.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertulisdalam.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertulisdalam.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=77&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/01/26/pernahkah-kita-merenung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/44b54188e2c9fce07ab552e69d4c09d2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrawardana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bertengkarlah Dengan Indah</title>
		<link>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/01/13/bertengkarlah-dengan-indah/</link>
		<comments>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/01/13/bertengkarlah-dengan-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 06:10:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indra Wardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertulisdalam.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: &#8220;Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !&#8221; Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah berdusta. Yang jelas kita perlu menikmati saat-saat bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi saat saat tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=74&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan<br />
berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: &#8220;Saya tidak pernah bertengkar<br />
dengan isteri saya !&#8221; Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau<br />
ia tengah berdusta. Yang jelas kita perlu menikmati saat-saat<br />
bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi saat saat tidak<br />
bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja<br />
dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi.</p>
<p>Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah,<br />
betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap<br />
mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan<br />
desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna<br />
ketimbang basa basi tanpa emosi.<br />
Tulisan ini murni non politik, jadi tolong jangan tergesa-gesa membacanya.<br />
Bacalah dengan sabar, lalu renungi dengan baik, setelah itu&#8230;terapkan<br />
dalam keseharian kita&#8230;&#8230;.setuju friend&#8217;s???</p>
<p>&#8230;..Suatu ketika seseorang berbincang dengan orang yang akan menjadi teman hidupnya,<br />
dan salah satunya bertanya; apakah ia bersedia berbagi masa depan dengannya,<br />
dan jawabannya tepat seperti yang diharap.<br />
Mereka mulai membicarakan : seperti apa suasana rumah tangga ke depan.<br />
Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala<br />
mereka bertengkar. Dari beberapa perbincangan hingga waktu yang<br />
mematangkannya, tibalah mereka pada sebuah Memorandum of Understanding,<br />
bahwa kalaupun harus bertengkar, maka :</p>
<p>1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama&#8217;ah</p>
<p>Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal<br />
nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang<br />
berjama&#8217;ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia<br />
marah dan saya mau menyela, segera ia berkata &#8220;STOP&#8221; ini giliran<br />
saya ! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya<br />
berkata dalam hati : &#8220;kamu makin cantik kalau marah,makin energik &#8230;&#8221;<br />
Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi<br />
jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi&#8230; &#8220;duh<br />
kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka<br />
dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu &#8230;.&#8221;</p>
<p>Demikian juga kalau pas kena giliran saya &#8220;yang olah raga otot<br />
muka&#8221;, saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang<br />
tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar<br />
kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah.<br />
pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama&#8217;ah, sebab ada<br />
sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama&#8217;ah selain marah <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat<br />
  masa (maksudnya masa lalu kita)</p>
<p>Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab<br />
masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah.<br />
Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan<br />
terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga<br />
harapan dan bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang<br />
yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran<br />
dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah<br />
sedemikian mahal dibangunnya.</p>
<p>Kalau saya terlambat pulang dan ia marah,maka kemarahan atas<br />
keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah &#8220;ungkapan rindu<br />
yang keras&#8221;. Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu<br />
lalu,awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.&gt;</p>
<p>Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula),<br />
sepedas apapun saya marah,maka itu adalah &#8220;harapan ingin disayangi<br />
lebih tinggi&#8221;. Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga<br />
hari lewat,plus tuduhan &#8220;Sudah tidak suka lagi ya dengan saya&#8221;, maka saya<br />
telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di<br />
masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya.</p>
<p>Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah &#8230; OK, marahlah tapi<br />
untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun<br />
milik hari ini &#8230;..</p>
<p>3. Kalau marah jangan bawa-bawa keluarga</p>
<p>Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan<br />
ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian<br />
juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak<br />
menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40) .</p>
<p>Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi<br />
kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak saya<br />
menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini<br />
selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah &#8220;awal<br />
cinta yang panas ini&#8221;.</p>
<p>Kata ayah saya : &#8220;Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak&#8221;.<br />
Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma&#8217;afnya dari<br />
pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..&#8221;. Dunia sudah<br />
diambang pertempuran, tidak usyah ditambah tambah dengan memusuhi<br />
mertua!</p>
<p>4. Kalau marah jangan di depan anak-anak</p>
<p>Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian.<br />
Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka<br />
harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya<br />
bertengkar, bingung harus memihak siapa.<br />
Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu &#8216;kan bapak saya.<br />
Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :</p>
<p>* Ibu         : &#8220;Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu<br />
                  datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!&#8221;<br />
* Bapak : &#8220;Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan<br />
              aku harus mencari lebih banyak untuk itu,<br />
              saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda ????!!!!<br />
* Anak : &#8220;&#8230;&#8230; Yaaa &#8230;ibu saya babu, bapak saya kuda &#8230;. terus saya<br />
             ini apa ?&#8221;</p>
<p>Kita harus berani berkata : &#8220;Hentikan pertengkaran !&#8221; ketika anak datang,<br />
lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan.<br />
Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia<br />
mendengar kata bahasa hati kita ???</p>
<p>5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat</p>
<p>Pada setiap tahiyyat dalam shalat kita berkata : &#8220;Assalaa-mu &#8216;alaynaa wa<br />
&#8216;alaa&#8217;ibaadilahissh oliihiin&#8221; Ya Allah damai atas kami, demikian juga<br />
atas hamba hambamu yg sholeh &#8230;.</p>
<p>Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap<br />
isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya, padahal<br />
nyawamu ditangan Nya.</p>
<p>OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti<br />
lho itu janji dengan Ilahi &#8230;. Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau<br />
maghrib sebatas isya &#8230; Atau habis isya sebatas&#8230;.? ?? Nnngg .. Ah<br />
kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak<br />
bertengkar &#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema&#8217;afkan</p>
<p>Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah<br />
&#8220;proses belajar untuk mencintai lebih intens&#8221; Ternyata ada yang masih<br />
setia dengan kita walau telah kita maki-maki.</p>
<p><strong>kontradiksi diperlukan untuk  mencapai suatu perubahan yang lebih baik ; marxist</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertulisdalam.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertulisdalam.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertulisdalam.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertulisdalam.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertulisdalam.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertulisdalam.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertulisdalam.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertulisdalam.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertulisdalam.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertulisdalam.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertulisdalam.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertulisdalam.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertulisdalam.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertulisdalam.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertulisdalam.wordpress.com&amp;blog=9822345&amp;post=74&amp;subd=tertulisdalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertulisdalam.wordpress.com/2010/01/13/bertengkarlah-dengan-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/44b54188e2c9fce07ab552e69d4c09d2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrawardana</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
